Pengertian Kurikulum & PAK menurut Para Ahli serta Sejarah Kurikulum & Perbedaan Kurikulum di Indonesia dengan di luar Negeri
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
10 Pengertian Kurikulum
Menurut Para Ahli
1.Harsono (2005)
Mengungkapkan bahwa kurikulum ialah suatu gagasan pendidikan yang
diekpresikan melalui praktik. Pengertian kurikulum saat ini semakin berkembang,
sehingga yang dimaksud dengan kurikulum itu tidak hanya sebagai gagasan
pendidikan, namun seluruh program pembelajaran yang terencana dari institusi
pendidikan nasional.
2.Prof. Drs. H. Darkir
Menyatakan bahwa kurikulum
merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan. Jadi, kurikulum ialah
program pendidikan dan bukan program pengajaran, sehingga program itu direncanakan
dan dirancang sebagai bahan ajar dan juga pengalaman belajar.
3.Kerr, J.F (1968)
Kurikulum merupakan seluruh
pembelajaran yang dirancang dan dilakukakan secara individu maupun kelompok,
baik didalam sekolah maupun diluar sekolah.
4.Good V.Carter (1973)
Mengatakan bahwa kurikulum
merupakan sekumpulan kursus ataupun urutan pembelajaran yang sistematik.
5.Inlow (1966)
Kurikulum merupakan suatu usaha menyeluruh yang dirancang secara
khusus guna untuk membimbing peserta didik dalam memperoleh hasil belajar dari
pembelajaran yang sudah ditetapkan.
6.Neagley dan Evans (1967)
Mengemukakan kurikulum sebagai
sebuah pengalaman yang telah dirancang dari pihak sekolah untuk membantu
peserta didik dalam mencapai hasil belajar yang baik.
7.Hilda
Taba (1962)
Kurikulum dianggap
sebagai a plan of learning yang artinya bahwa kurikulum merupakan
sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh peserta didik.
8.David Praff
Kurikulum merupakan seperangkat
organisasi dari pendidikan formal / pusat-pusat pelatihan pembelajaran.
9.Saylor
(1958)
Kurikulum ialah keseluruhan
usaha pihak sekolah untuk mempengaruhi PBM baik secara langsung didalam kelas,
tempat bermain, ataupun di luar sekolah.
10.Valiga,
T & Magel, C
Kurikulum merupakan suatu urutan pengalaman yang telah
ditetapkan oleh pihak sekolah untuk mendisiplinkan cara berfikir &
bertindak para peserta didik.
Dari
pengertian diatas dapat saya ambil kesimpulan bahwa Kurikulum adalah seluruh
program pembelajaran yang terencana dari institusi pendidikan nasional, yang
diekspresikan melalui praktik dapat juga dikatakan bahwa kurikulum itu alat
dalam mencapai tujuan pendidikan.
10 Pengertian PAK Menurut Para Ahli
1. E.G. Homrighausen
mengatakan: “Pendidikan Agama Kristen
berpangkal pada persekutuan umat Tuhan. Dalam perjanjian lama pada hakekatnya
dasar-dasar terdapat pada sejarah suci purbakala, bahwa Pendidikan Agama
Kristen itu mulai sejak terpanggilnya Abraham menjadi nenek moyang umat pilihan
Tuhan, bahkan bertumpu pada Allah sendiri karena Allah menjadi peserta didik
bagi umat-Nya”.
2.Menurut Warner C. Graedorf
PAK adalah “Proses pengajaran dan
pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung
kepada Roh Kudus, yang membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pertumbuhan
melalui pengajaran masa kini ke arah pengenalan dan pengalaman rencana dan
kehendak Allah melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan, dan melengkapi
mereka bagi pelayanan yang efektif, yang berpusat pada Kristus sang Guru Agung
dan perintah yang mendewasakan pada murid”.
3. Hieronimus (345-420)
PAK adalah pendidikan yang tujuannya
mendidik jiwa sehingga menjadi bait Tuhan. (Mat.5:48).
4. Agustinus (345-430)
PAK adalah pendidikan yang bertujuan
mengajar orang supaya “melihat Allah”
dan “hidup bahagia.”
5. Martin Luther (1483-1548)
PAK adalah pendidikan yang melibatkan
warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa
mereka serta bersukacita dalam Firman Yesus Kristus yang memerdekakan. Di
samping itu PAK memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya yang
berkaitan dengan pengalaman berdoa, Firman tertulis (Alkitab) dan rupa-rupa
kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan
Negara serta mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan
Kristen.
6. John Calvin (1509-1664) PAK adalah
pendidikan yang bertujuan mendidik semua putra-putri gereja agar mereka:
1.Terlibat dalam penelaahan Alkitab secara
cerdas sebagaimana dengan bimbingan Roh kudus.
2.Mengambil bagian dalam kebaktian dan memahami keesaan gereja.
3.Diperlengkapi untuk memilih cara-cara
mengejawantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam
pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah
dan kemuliaanNya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus
Kristus.
7. Campbell Wyckoff, Menyatakan bahwa PAK menyadarkan
setiap orang akanAllah dan kasih4ya dalam Yesus Kristus,
agar mereka mengetahui diri dan keadaan merekayang sebenarnya, serta bertumbuh
sebagai anak Allah dalam persekutuan Kristen,memenuhi panggilan bersama sebagai murid Yesus di dunia, dan tetap percaya pada pengharapanKristen.
8. C.L.J. Sherrill
PAK adalah pendidikan yang bertujuan memperkenalkan Alkitab
kepada pelajar, sehingga mereka siap menjumpai dan menjawab Allah, memperlancar
komunikasi secara mendalam antarpribadi tentang keprihatinan insani serta
mempertajam kemampuan menerima fakta bahwa mereka dikuasai kekuatan dan kasih Allah
yang memperbaiki, menebus, dan menciptakan kembali.
9. Sidang Raya Gereja Presbyterian USA
Pak adalah pendidikan yang bertujuan mengajar jemaat
untuk menjadi murid Yesus Kristus. Mereka diharapkan dapat menemukan kehendak
Allah, kemudian melaksanakannya dilungkungan setempat, nasional ,
internasional.
10. Gereja Kongresional, Evengelikal,
Reformed bergabung di USA
PAK adalah pendidikan yang bertujuan membawa orang ke
dalam Persekutuan Kristen, membimbing dalam iman dan panggilan Kristen, supaya
menerima pengampunan dan kekuatan bagi kehidupan baru dari Allah dengan ucapan
syukur dan ketaatan serta di mampukan bertumbuh secara matang sebagai pribadi
Kristen dan menjadi orang yang setia melaksanakan panggilan gereja.
Menurut saya PAK adalah proses
pengajakan dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab atau cara pendidikan yang
bertujuan memperkenalkan Alkitab kepada pengajar sehingga mereka siap menjumpai
Allah dan menjawab Allah. Dan juga dapat berubah menjadi pribadi yang lebih
baik lagi.
Sejarah Kurikulum di dalam Pendidikan
(Sampai kepada K13)
1. Kurikulum 1947 atau disebut Rentjana Pelajaran
1947
Ini adalah kurikulum pertama sejak Indonesia merdeka. Perubahan arah
pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke
kepentingan nasional. Saat itu mulai ditetapkan asas pendidikan ditetapkan
Pancasila. Kurikulum ini sebutan Rentjana Pelajaran 1947, dan baru dilaksanakan
pada 1950.
Karena kurikulum ini lahir dikala Indonesia baru merdeka, maka pendidikan
yang diajarkan lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia
merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Fokus
Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pendidikan pikiran, melainkan hanya
pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat.
Adanya kurikulum ini merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya,
merinci setiap mata pelajaran sehingga dinamakan Rentjana Pelajaran Terurai
1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan Indonesia.
Seperti setiap pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata
pelajaran menunjukkan secara jelas seorang guru mengajar satu mata pelajaran.
3. Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan
1964
Pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pada 1964, namanya
Rentjana Pendidikan 1964. Kurikulum ini bercirikan bahwa pemerintah mempunyai
keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada
jenjang SD. Sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu
pengembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan
(keterampilan), dan jasmani.
4. Kurikulum 1968
Kurikulum pertama sejak jatuhnya Soekarno dan digantikan Soeharto.
Bersifat politis dan menggantikan Rentjana Pendidikan 1964 yang dicitrakan
sebagai produk Orde Lama. Kurikulum ini bertujuan membentuk manusia Pancasila
sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan
jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Kurikulum 1968 merupakan
perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni.
Cirinya, muatan materi pelajaran bersifat teoretis, tidak mengaitkan
dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja
yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. Isi pendidikan
diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta
mengembangkan fisik sehat dan kuat.
5. Kurikulum 1975
Pemerintah memperbaiki kurikulum pada tahun itu. Kurikulum ini menekankan
pendidikan lebih efektif dan efisien. Menurut Mudjito, Direktur Pembinaan TK
dan SD Departemen Pendidikan Nasional kala itu, kurikulum ini lahir karena
pengaruh konsep di bidang manajemen MBO (management by objective). Metode,
materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional (PPSI), dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu rencana
pelajaran setiap satuan bahasan.
6. Kurikulum 1984
Kurikulum ini mengusung pendekatan proses keahlian. Meski mengutamakan
pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering
disebut “Kurikulum 1975 disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek
belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga
melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
7. Kurikulum 1994 dan Suplemen
Kurikulum 1999
Pada tahun 1994 pemerintah memperbarui kurikulum sebagai upaya memadukan
kurikulum kurikulum sebelumnya, terutama Kurikulum 1975 dan 1984. Namun,
perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik
berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari
muatan nasional sampai muatan lokal. Misalnya bahasa daerah, kesenian,
keterampilan daerah, dan lain-lain.
8. Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum
Berbasis Kompetensi)
Pada 2004 diluncurkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebagai
pengganti Kurikulum 1994. Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus
mengandung tiga unsur pokok, yaitu pemilihan kompetensi sesuai, spesifikasi
indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian
kompetensi, dan pengembangan pembelajaran.
KBK mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, menekankan pada ketercapaian
kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada
hasil belajar dan keberagaman. Kegiatan belajar menggunakan pendekatan dan
metode bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar
lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
9. Kurikulum 2006, KTSP (Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan)
Kurikulum ini hampir mirip dengan Kurikulum 2004. Perbedaan menonjol
terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari
desentralisasi sistem pendidikan Indonesia. Pada Kurikulum 2006, pemerintah
pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Guru dituntut mampu
mengembangkan sendiri silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan
daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran dihimpun menjadi sebuah
perangkat dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
10. Kurikulum 2013
Kurikulum ini adalah pengganti kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 memiliki
tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek
sikap dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi
pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan.
Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn,
dsb., sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika.
Perbedaan Kurikulum di Indonesia dan di luar Negeri
1. Berkurangnya masa-masa bermain anak
Usia balita dan kanak-kanak
adalah masa yang paling menyenangkan bagi seorang anak, karena di waktu itu
mereka dapat belajar banyak hal sembari bermain. Namun di Indonesia, pengenalan
pendidikan sejak dini sudah mulai diterapkan. Bahkan ada yang masih dalam masa
balita, seperti memasukkannya ke playgroup dan Taman Kanak-kanak sampai dengan
pemberian kursus privat.
Hal
ini disebabkan ada persyaratan khusus ketika sang anak akan masuk Sekolah
Dasar, minimal sudah dapat membaca. Memang bagus sih, karena tujuannya agar
seorang anak dapat belajar bersosialisasi dan melatih motorik dan daya pikir
mereka. Namun satu imbas yang secara tidak langsung didapatkan adalah masa
kanak-kanak mereka akan hilang di usia yang masih terlalu dini tersebut, mereka
akan mulai mengenal stres.
Bagaimana dengan di luar
negeri? Salah satu contohnya di Finlandia, seorang anak dapat mulai masuk ke
jenjang pendidikan dasar ketika mereka sudah berusia 7 tahun. Sebelum itu, maka
mereka dapat mengeksplorasi apa yang mereka inginkan, salah satunya adalah
bermain.
2. Kelas unggulan dan kelas biasa
Mungkin di seluruh negara
di luar negeri tidak mengenal sistem pembagian kelas yang berisikan anak-anak
pintar saja atau disebut kelas unggulan dan kelas yang berisikan siswa atau
mahasiswa biasa dengan grade standar. Rata-rata semua orang akan dikumpulkan
dalam satu kelas yang hanya dibedakan berdasarkan jumlahnya saja. Seperti kelas
1A, 1B dan seterusnya. Sedangkan di Indonesia ada pembagian kelas unggulan dan
non-unggulan yang justru secara tidak langsung dapat menciptakan gap atau
tembok pembatas antara siswa pintar dan yang biasa.
Memang
dilihat dari sudut pandang pendidikan, salah satu tujuannya adalah agar fokus
siswa atau mahasiswa yang pintar tidak terpecah ketika dicampur dengan yang
biasa dan mereka dapat bersaing dengan sesama orang cerdas dalam kelasnya.
Namun secara tidak langsung, sisi psikologis dari yang menempati kelas unggulan
dan non-unggulan tercipta. Akan ada rasa canggung dan jengah dari siswa atau
mahasiswa yang ditempatkan dalam dua jenis kelas berbeda tersebut.
3.Jam belajar berlebih
Di luar negeri, jam belajar
untuk hal-hal yang berbau teori sangat terbatas dan selebihnya akan diisi
dengan professional development dan praktik. Hal ini sejalan seperti yang
pernah dikatakan oleh mantan Ketua PAN, Amin Raiz, yang menjelaskan bahwa
Indonesia masih menganut sistem spoon feeding, sehingga guru akan menjadi
sumber satu-satunya.
Selain
itu, tambahan-tambahan ekstrakurikuler sampai dengan kursus atau bimbingan
belajar juga menambah panjang jam belajar seseorang yang mengakibatkan penat
dan capek tidak hanya fisik saja, melainkan juga pikiran.
4. Masa orientasi di awal masuk sekolah
Tentunya hampir semua orang
di Indonesia pernah mengalami MOS atau Masa Orientasi Sekolah atau OSPEK atau
Orientasi Pengenalan Kampus. Walaupun sudah banyak kasus dan pernah diwacanakan
untuk dilarang diberlakukan di semua sekolah atau universitas di Indonesia,
namun kegiatan ini kerap saja dilakukan.
Di
Indonesia MOS dan OSPEK selalu diisi dengan aktivitas-aktivitas yang didominasi
untuk mempermalukan para orang baru. Seperti mengenakan topi dari tas plastik
sampai dengan memakai kaos kaki berbeda warna. Banyak panitia yang akan
mengatakan bahwa tujuannya agar orang baru tersebut dapat kuat mental dan fisik
sebelum benar-benar menjadi siswa atau mahasiswa di suatu sekolah atau
universitas.
Akan tetapi ditilik dari
sisi fungsinya yang benar-benar berguna, apakah ada manfaat dari MOS dan OSPEK
tersebut? Bahkan para orang tua juga kerap khawatir ketika anak-anak mereka
akan berangkat mengikuti kegiatan tersebut.
Jika di Indonesia orientasi
pengenalannya seperti itu, di luar negeri, salah satu contohnya di Amerika
Serikat justru dilakukan dengan cara yang lebih positif. Para siswa atau
mahasiswa baru akan diajak berkeliling dan mengikuti beberapa seminar juga
kajian agar mereka lebih mengenal sekolah dan kampusnya. Tidak hanya pengenalan
kampus dan sekolah saja, ada pula pemberian informasi terkait segala hal yang
diberikan.
5. Hasil akhir adalah segalanya
Memang segala macam ujian
akan dinilai dengan hasil akhir sebagai resultnya. Hal ini diterapkan di semua
jenjang pendidikan di Indonesia. Bahkan sampai ada standarisasi khusus yang
banyak membuat para siswa pada khususnya stres dan depresi karena harus
mencapai nilai minimal setara standarisasi sesuai dengan yang ditentukan
pemerintah.
Di kebanyakan jenjang
pendidikan di luar negeri, contohnya saja di Australia, hasil akhir bukanlah
segala-galanya. Semua pendidik akan lebih menitikberatkan pada sektor prosesnya
daripada hasil akhir. Jika dalam prosesnya saja berantakan, maka dapat
diketahui bahwa hasil akhirnya juga amburadul.
Selain
hasil akhir, dengan banyaknya materi yang diberikan dengan jam belajar yang
cukup lama juga membuat seseorang tidak dapat mencerna pelajaran atau segala
informasi yang diberikan karena otak terlanjur ‘panas’ dan susah untuk
digunakan mengingat secara detail. Sedangkan di luar negeri, materi yang diberikan
hanyalah yang berupa poin khususnya saja dan jam pendidikannya akan lebih
ditikberatkan pada praktik, sehingga seorang siswa atau mahasiswa akan lebih
mengerti dan paham secara langsung daripada hanya menghafal teori dan materi.
Walaupun ada beberapa poin
yang menjadikan sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia tertinggal dari
banyak negara-negara di dunia, namun bukan berarti tidak ada yang dibanggakan
dengan belajar di Tanah Air. Contohnya Anda tidak perlu mengeluarkan uang banyak
untuk biaya belajar dan lain sebagainya. Tentunya semua akan menjadi satu
pekerjaan rumah bagi siapa saja agar dapat mewujudkan sistem dan kualitas
pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi dan dapat bersaing dengan
negara luar, serta dibutuhkan dukungan serta perhatian dari berbagai pihak
untuk hal tersebut.
Demikian yang dapat saya sampaikan semoga dapat
bermanfaat bagi pembaca...
MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM A. Teori Model- model Pengembangan Kurikulum Para ahli kurikulum telah banyak merumuskan macam-macam desain atau model pengembangan kurikulum. Manakala kita kaji desain pengembanagn kurikulum yang dikemukakan para ahli kurikulum itu memiliki kesamaan, Diantaranya desain kurikulum yaitu: (1). Berorientasi pada disiplin ilmu, (2). Berorientasi pada kebutuhan Masyarakat, (3). Desain yang berorientasi pada peserta didik. Adapun macam-macam model pengembangan kurikulum, diantaranya adalah : 1. Model Tyler Tyler lebih lanjut menyatakan, dalam menentukan tujuan pendidikan hendaknya jangan hanya diperhitungkan pendapat para ahli disiplin ilmu melainkan juga kebutuhan dan minat anak dan masyarakat yang sesuai dengan falsafah pendidikan. Dalam proses belajar-mengajar harus diperhatikan latar belakang pendidikan dan pengal...
ASAS-ASAS ATAU LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM A. Pengertian Pengembangan Kurikulum Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses penyelenggaraan pendidikan yang menghasilkan suatu bentuk pembelajaran yang lebih baik yang berdasarkanb kepada asas-asas pengembangan secara menyeluruh sehingga kegiatan dalam belajar mengajar menjadi lebih baik. B. Asas Pengembangan Kurikulum Beberapa pendapat para ahli yang menjelaskan tentang pengertian asas atau landasan; 1. Robert S. Zais (1976), mengemukakan empat landasan pengembangan kurikulum, yaitu: 1). Philosophy and the nature of knowledge; 2). Society and culture; 3). the individual; 4). Learning theory . Kurikulum sebagai suatu sistem terdiri atas empat komponen, yaitu: komponen tujuan ( aims, goals, objektives ), isi/materi ( contens ), proses pembelajaran ( learning activites ), dan komponen evaluasi. Agar set...
PENG E MBANGAN ALAT EVALUASI A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran Menand Brown, dalam buku Drs. Wayan Nurkancana & Drs. P.P.N.Sumartana yang berjudul “Evaluasi Pendidikan” pengertian evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari pada sesuatu. Sesuatu dengan pendapat tersebut maka evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan B. Tujuan Umum Evaluasi Pembelajaran 1. Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Dengan kata lain tujuan umum dalam evaluasi pendidikan adalah untuk memperoleh data pembuktian, dan akan menj...
Komentar
Posting Komentar